Sorry friends, postingan terakhir isinya seputar kontes seo Stop Dreaming Start Action terus…:p. Karena memang sedang seru2nya lihat para master SEO bersaing di halaman pertama google. Oh ya, tadi baru saja blog walking dari tetangga sebelah.
Membaca artikel “bismillahirahmaanirahiim” yang ditulis oleh bang Dje di http://taman-islam.com, jadi tersentak dan teringat bahwa memang setiap melakukan sebuah pekerjaan, sebagai muslim harus mengawalinya dengan membaca basmallah. Termasuk juga mengawali artikel di blog dengan bacaan bismillaahirrahmaanirraahiim.
Menyiasati Konsistensi Posting Blog di tengah Kesibukan Aktivitas Offline
Halo rekan-rekan, kaget ya kalau saya nulis disini. Kalau ngga kaget juga gpp kok, santai aja. Saya nulis ini sebagai hadiah aja untuk sohib, Mas Agung yang udah mengudara kembali setelah menghilang untuk bertapa di Kawah Candradimuka.
Seperti biasa, saya suka sekali mengangkat permasalahan yang dihadapi rekan-rekan newbie yang sedang mencoba peruntungannya di dunia online, khususnya bidang blog monetizing. Dan kalau Anda sudah pernah pernah membaca artikel saya sebelumnya di blog ini, “Meningkatkan Kualitas Blogwalking Anda dengan Komentar Berkualitas“, maka boleh dikatakan ini adalah artikel lanjutannya.
Ada satu permasalahan yang kerapkali dihadapi oleh para newbie, selain kehabisan topik tulisan (kalau soal kehabisan topik, mungkin tidak saya bahas lebih lanjut. Anda bisa membacanya di tulisan kawan saya juga, Sang Motivator Mental Mas Fadly Muin), yaitu masalah waktu.
Artikel ini terinspirasi ketika saya sholat jumat tadi siang, sewaktu membaca Buletin Mimbar Jumat no. 05 Th.XXII 03 Shafar 1430 H – 30 Januari 2009 Jumat V tentang “Akhlak Mencari Rejeki” yang ditulis oleh H. Abu Abdullah. Dalam buletin tersebut dikatakan bahwa…
Pada suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk-duduk dengan para sahabat, tiba-tiba tampaklah di sana seseorang yang masih muda yang amat kuat dan tubuhnya kekar. Pagi-pagi ia telah berangkat bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat berkata,”Kasihan sekali pemuda ini, andaikata usianya yang masih muda dan tenaga yang masih kuat itu dia pergunakan untuk berjuang fisabilillah, alangkah baiknya”. Mendengar ucapan sahabat itu, Rasulullah lantas berkata,”Janganlah kamu berkata seperti itu, sebab orang itu kalau keluarnya tadi dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah. Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar ia tidak meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau untuk bermegah-megah, maka itulah fi sabilisysyaithan atau karena kamu mengikut jalan syaithan”. (HR. Thabarani).
Posting ini khusus buat yang masih jadi pekerja, seperti saya, mas Agung, dan kawan-kawan. Anda sudah pernah mendengar Post Power Syndrome? Sulit memang membayangkan ramalan 30 sampai 40 tahun kedepan. Anda bisa lihat slogan di sebelah ini… No phone, no address, no business, no money, too old to steal, too lazy to work. Kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Apa yang akan di hadapi saat kita, saya, dan Anda pensiun? jujur saja, bukan berarti iseng atau kurang kerjaan. Tapi ini adalah hasil pengamatan dan sebuah observasi dalam mata kuliah yang pernah saya ajarkan. Tema observasi ini “Apakah setiap karyawan, perkerja, pegawai, buruh, siap menghadapi pensiun?” Observasi ini dilakukan dengan beberapa mahasiswa tingkat empat dan kesimpulannya…
Kebanyakan kita pada umumnya tidak ingin menganggap diri kita sebagai orang yang kreatif, padahal sebenarnya kita semua adalah orang yang kreatif atau berpotensial untuk menjadi kreatif. Banyak orang berkata, ” Ayah saya kreatif, ia dapat memainkan suling dengan sangat baik,” atau ” Ibu saya dapat bernyanyi dengan sangat merdunya,” atau ” Permainan gitar kakak saya dapat membuat orang tertegun dan ia pun dapat menulis sebuah lagu.” Ternyata kita sudah melupakan, bahwa kita semua kreatif.
Mengapa? Yang menjadi salah satu alasan kita tidak menyadarinya adalah karena kita sudah terbiasa menginterpretasikan istilah “kreatif” dengan “orisinal”. Padahal , kreativitas tidak berhubungan dengan orisinalitas, justru kreativitas berhubungan dengan segala hal yang tidak terduga.
Pada umumnya kita tidak pernah benar-benar fokus, apalagi di dunia maya. Lho kok bisa? coba saja anda pikirkan, kita punya suatu ide atau niat untuk mencari suatu informasi, berhubung ingin cepat dapat dari pada harus ke toko buku coba saja di internet, pasti ada. Ya kan? Lalu kita coba gunakan search engine yang terbesar misalnya google.com. Apa yang kita dapat? wow, informasi yang sangat banyak dan semuanya menarik. Tanpa kita sadari, kita browsing, surfing ke situs mana saja yang memang tidak berhubungan dengan informasi yang kita cari sejak awal. Tetapi kita sangat asik dan menikmatinya, karena berbagai informasi menarik dapat kita ambil via internet, (saya juga gitu lho…:P). Setelah selesai berjam-jam “playing intenet”, kita baru tersadar bahwa kita belum mendapatkan apa yang sejak awal kita cari. Mengapa begitu? The secret is focus. Begitu pentingnya sebuah kata fokus untuk kita.
Tulisan ini saya kutip dari buku “100 ways to motivate yourself” by Steve Chandler, yang menurut saya isinya sangat luar biasa yang mungkin dapat menciptakan perbedaan besar dalam hidup anda (saya juga tentunya). Sengaja saya sharing-kan beberapa tulisannya pada anda, mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk anda, khususnya saya juga sebagai media pengembangan diri dan penambahan wacana dalam cara pandang terhadap hidup dan lingkungan sekitar kita. Dan saya akan buatkan dalam bentuk series khusus untuk para pengujung blog ini.
Ok deh, langsung aja friend…ini kutipannya :
Arnold Schwarzenegger belum terkenal pada tahun 1976 ketika ia dan saya makan siang bersama di doubletree Inn di Tucson, Arizona. Tak seorangpun dalam restoran itu yang mengenalnya.
Saat itu ia sedang mempromosikan film Stay Hungry, sebuah film yang sangat mengecewakan, yang baru saja ia garap bersama Jeff Bridges dan Sally Field. Waktu itu saya bekerja sebagai kolumnis olahraga untuk Tucson Citizen, dan tugas saya adalah menghabiskan waktu satu hari penuh, duduk berhadapan dengan Arnold, dan menulis satu cerita tentangnya untuk surat kabar kami edisi hari senin.